Tugas
kelas X MA Assasul Islamiyah
Keikhlasaan dalam
beribadah :
سورة الانعام
162-163
قُلْ اِنَّ صَلاَتِي
وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ . لاَ شَرِيْكَ لَهُ
وَبِذَلِكَ اُمِرْتُ وَاَنَا اَوَّلُ اْلمُسْلِمِيْنَ
Artinya :
“Katakanlah (Muhammad) Sesungguhnya shalatku,
ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam. Tidak
ada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku
adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim Allah)” (Qs: Al-‘An’am, 162-163).
سورة البينة
: 5
وَمَا
اُمِرُوا الاَّ لِيَعْبُدُوا اللهَ مخُلِْصِينً لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ وَيُقِيْمُوا
ْالصَلَوةَ َويُؤتُوا الزَكَوةَ وَذَلِكَ دِيْنُ اْلقَيِّمَةْ
Artinya :
“Padahal
mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas
menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar
melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang
lurus (benar)” (Qs. Al-bayyinah, 5)
Hadits tentang keikhlasan dalam beribadah
قال رسول
الله صلى الله عليه وسلم : اَخْلِصُوا اَعْمَالَكُمْ للهِ فَاِنَّ اللهَ لاَ
يَقْبَلُ اِلاَ مَا اَخْلَصَ لَهُ
“Rasulallah saw, bersabda: “Ikhlaskanlah amal perbuatanmu karena
Allah, sesungguhnya Allah tidak akan menerima (amal ibadah) , kecuali yang diikhlaskan
kepada-Nya” (HR. Bukhary).
Makna Ikhlas Dalam Ibadah
Ketahuilah wahai saudaraku kaum muslimin
-semoga Allah memberikan hidayah kepadaku dan kepada kalian untuk berpegang
teguh kepada Al-Kitab dan As-Sunnah-, sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan
menerima suatu amalan apapun dari siapa pun kecuali setelah terpenuhinya dua
syarat yang sangat mendasar dan prinsipil, yaitu:
1. Amalan tersebut harus dilandasi keikhlasan
hanya kepada Allah, sehingga pelaku amalan tersebut sama sekali tidak
mengharapkan dengan amalannya tersebut kecuali wajah Allah Ta’ala.
2. Kaifiat pelaksanaan amalan tersebut harus sesuai dengan
petunjuk Rasulullah -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam-.
Dalil untuk kedua syarat ini disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam beberapa
tempat dalam Al-Qur`an. Di antaranya:
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia
mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam
beribadat kepada Rabbnya”.(QS. Al-Kahfi :
110)
Al-Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata dalam Tafsirnya (3)109) menafsirkan ayat
di atas, “(Maka hendaklah ia
mengerjakan amal yang saleh), Yaitu apa-apa
yang sesuai dengan syari’at Allah, [dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam
beribadat kepada Rabbnya] yaitu yang hanya diinginkan wajah Allah dengannya
tanpa ada sekutu bagi-Nya. Inilah dua rukun untuk amalan yang diterima, harus
ikhlas hanya kepada Allah dan benar di atas syari’at Rasulullah
-Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam-”.
Dan juga Firman Allah Ta’ala:
“Dia lah yang menjadikan mati dan hidup, agar Dia menguji kalian,
siapa di antara kalian yang paling baik amalannya”. (QS. Al-Mulk : 2)
Al-Fudhoil bin Iyadh -rahimahullah- sebagaimana dalam Majmu’ Al-Fatawa karya
Ibnu Taimiah -rahimahullah- (18:2500 berkata
ketika menafsirkan firman Allah ”"siapa di antara kalian yang paling baik amalannya”, “Yaitu, Yang paling
ikhlas dan yang paling benar. Karena sesungguhnya amalan, jika ada
keikhlasannya akan tetapi belum benar, maka tidak akan diterima. Jika amalan
itu benar akan tetapi tanpa disertai keikhlasan, maka juga tidak diterima,
sampai amalan tersebut ikhlas dan benar. Yang ikhlas adalah yang hanya (diperuntukkan) bagi Allah dan yang benar adalah yang berada di atas sunnah Rasulullah
-shallallahu alaihi wasallam”.
Berikut uraian kedua syarat ini:
Syarat Pertama: Pemurnian Keikhlasan
Hanya Kepada Allah
Ini adalah konsekuensi dari syahadat pertama yaitu persaksian bahwa tidak ada
sembahan yang berhak untuk disembah dan diibadahi kecuali hanya Allah
-Subhanahu wa Ta’ala- semata serta meninggalkan dan berlepas diri dari berbagai
macam bentuk kesyirikan dan penyembahan kepada selain Allah Ta’ala.
Ada banyak dalil yang menopang syarat ini, di antaranya:
Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Kitab (Al Qur’an) kepadamu dengan (membawa)
kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.
Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih dari syirik”. (QS. Az-Zumar : 2-3)
Allah Ta’ala berfirman:
“Katakanlah, “Sesungguhnya aku
diperintahkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya
dalam (menjalankan) agama”. (QS. Az-Zumar : 11)
Dan dalam firman-Nya:
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan
mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus”. (QS. Al-Bayyinah : 5)
Adapun dari As-Sunnah, maka Rasulullah -Shallallahu alaihi wa ala alihi
wasallam- telah menegaskan dalam sabda beliau:
“Sesungguhnya setiap amalan hanyalah tergantung dengan niatnya
masing-masing, dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan. Maka,
barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada
Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak dia
raih atau karena perempuan yang hendak dia nikahi, maka hijrahnya kepada
sesuatu yang dia hijrah kepadanya”. (HR. Al-Bukhari no.
54, 2392 dan Muslim no. 1907 dari sahabat Umar bin Al-Khaththab -radhiallahu
anhu-)
Kemudian, keikhlasan yang diinginkan di sini adalah mencakup dua perkara:
1. Lepas dari syirik ashgar /kecil) berupa riya` (ingin dilihat), sum’ah (ingin didengar), keinginan mendapatkan balasan duniawi
dari amalannya, dan yang semisalnya dari bentuk-bentuk ketidakikhlasan. Karena
semua niat-niat di atas menyebabkan amalan yang sedang dikerjakan sia-sia,
tidak ada artinya dan tidak akan diterima oleh Allah Ta’ala.
Rasulullah -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman dalam
hadits Qudsy:
“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan apapun yang dia
memperserikatkan Saya bersama selain Saya dalam amalan tersebut, maka akan saya
tinggalkan dia dan siapa yang dia perserikatkan bersama saya”. (HR. Muslim no. 2985
dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu-)
Kata “dia” bisa kembali kepada pelakunya dan bisa kembali kepada amalannya,
Wallahu A’lam. Lihat Fathul Majid hal. 447.
Bahkan Allah Ta’ala telah menegaskan:
“Barangsiapa yang menghendaki (dengan ibadahnya) kehidupan dunia
dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka
di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah
orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di
akhirat apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah
mereka kerjakan”. (QS. Hud : 15-16)
2. Lepas dari syirik akbar (besar), yaitu menjadikan
sebahagian dari atau seluruh ibadah yang sedang dia amalkan untuk selain Allah
-Subhanahu wa Ta’ala-. Perkara kedua ini jauh lebih berbahaya, karena tidak hanya
membuat ibadah yang sedang diamalkan sia-sia dan tidak diterima oleh Allah,
bahkan membuat seluruh pahala ibadah yang telah diamalkan akan terhapus
seluruhnya tanpa terkecuali.
Allah Ta’ala telah mengancam Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa ala alihi
wasallam- dan seluruh Nabi sebelum beliau dalam firman-Nya:
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (Nabi-Nabi) yang sebelummu: “Jika kamu berbuat
kesyirikan, niscaya akan terhapuslah seluruh amalanmu dan tentulah kamu
termasuk orang-orang yang merugi”. (QS. Az-Zumar : 65)
Dari syarat yang pertama ini, sebagian
ulama ada yang menambahkan satu syarat lain diterimanya amalan, yaitu: Aqidah
pelakunya haruslah aqidah yang benar, dalam artian dia tidak meyakini sebuah
aqidah yang bisa mengkafirkan dirinya.
Contoh: Ada seseorang yang shalat dengan ikhlas dan sesuai dengan petunjuk Nabi
-shallallahu alaihi wasallam-, hanya saja dia meyakini bahwa Allah Ta’ala berada
dimana-mana. Keyakinan dia ini adalah keyakinan yang kafir karena merendahkan
Allah, yang karenanya shalatnya tidak akan diterima.
Contoh lain: Seseorang yang mengerjakan haji dengan ikhlas dan sesuai dengan
petunjuk Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, hanya saja dia meyakini bahwa ada
makhluk yang mengetahui perkara ghaib. Maka hajinya pun tidak akan diterima
karena dia telah meyakini keyakinan yang rusak lagi merupakan kekafiran.,
wallahu a’lam bishshawab
Info cari di : http//: raxabaya.blogspot.com