Sertifikasi guru mulai dari tahun 2007an , dari tahun ke tahun cara yang ditempuh pemerintah berbeda-beda, mulai dari porto folio sampai uka Yang tak kalah jadi pertanyaan ketika peserta sertifikasi mapel PAI itu begitu sulit dibanding mapel umum. Ada yang bisa menjawab. ?

tak sedikit guru yang kualifikasinya PAI lari ke umum, yang di kwatirkan mapel pai pada ninggalin dengan alasan susah masuk. pertanyaan "Apakah salah jika saya pegang mapel pai sesuai dengan muka saya ? .... apakah saya harus lari ke umum walaupun bukan muka saya ? apakah saya tetap harus menunggu walau kapan jawabannya ??????? ah. sertifikasi, tahun 2013 kesana apa yang akan dilakukan pemerintah dalam hal sertifikasi ???????????. tapi apapun itu , yang sudah sertifikasi dan belum yang namanya guru pasti punya kewajiban yang harus ditunaikan dan dipertanggugjawabkan baik didepan lembaga atau dihadapan Allah. 

Tugas kelas X MA Assasul Islamiyah

Keikhlasaan dalam beribadah :
سورة الانعام 162-163
قُلْ اِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ . لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ اُمِرْتُ وَاَنَا اَوَّلُ اْلمُسْلِمِيْنَ
Artinya :
Katakanlah (Muhammad) Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim Allah)” (Qs: Al-Anam, 162-163).
سورة البينة : 5
وَمَا اُمِرُوا الاَّ لِيَعْبُدُوا اللهَ مخُلِْصِينً لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ وَيُقِيْمُوا ْالصَلَوةَ َويُؤتُوا الزَكَوةَ وَذَلِكَ دِيْنُ اْلقَيِّمَةْ  
Artinya :
Padahal mereka hanya diperintah menyembah  Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)” (Qs. Al-bayyinah, 5)

Hadits tentang keikhlasan dalam beribadah


قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : اَخْلِصُوا اَعْمَالَكُمْ للهِ فَاِنَّ اللهَ لاَ يَقْبَلُ اِلاَ مَا اَخْلَصَ لَهُ


Rasulallah saw, bersabda: Ikhlaskanlah amal perbuatanmu karena Allah, sesungguhnya Allah tidak akan menerima (amal ibadah) , kecuali yang diikhlaskan kepada-Nya (HR. Bukhary).



Makna Ikhlas Dalam Ibadah

Ketahuilah wahai saudaraku kaum muslimin -semoga Allah memberikan hidayah kepadaku dan kepada kalian untuk berpegang teguh kepada Al-Kitab dan As-Sunnah-, sesungguhnya Allah Taala tidak akan menerima suatu amalan apapun dari siapa pun kecuali setelah terpenuhinya dua syarat yang sangat mendasar dan prinsipil, yaitu:
1.    Amalan tersebut harus dilandasi keikhlasan hanya kepada Allah, sehingga pelaku amalan tersebut sama sekali tidak mengharapkan dengan amalannya tersebut kecuali wajah Allah Taala.
2.    Kaifiat pelaksanaan amalan tersebut harus sesuai dengan petunjuk Rasulullah -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam-.
Dalil untuk kedua syarat ini disebutkan oleh Allah Ta
ala dalam beberapa tempat dalam Al-Qur`an. Di antaranya:
Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Rabbnya.(QS. Al-Kahfi : 110)
Al-Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata dalam Tafsirnya
(3)109) menafsirkan ayat di atas, (Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh), Yaitu apa-apa yang sesuai dengan syariat Allah, [dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Rabbnya] yaitu yang hanya diinginkan wajah Allah dengannya tanpa ada sekutu bagi-Nya. Inilah dua rukun untuk amalan yang diterima, harus ikhlas hanya kepada Allah dan benar di atas syariat Rasulullah -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam-.
Dan juga Firman Allah Ta
ala:
Dia lah yang menjadikan mati dan hidup, agar Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalannya. (QS. Al-Mulk : 2)
Al-Fudhoil bin Iyadh -rahimahullah- sebagaimana dalam Majmu
Al-Fatawa karya Ibnu Taimiah -rahimahullah- (18:2500 berkata ketika menafsirkan firman Allah "siapa di antara kalian yang paling baik amalannya, Yaitu, Yang paling ikhlas dan yang paling benar. Karena sesungguhnya amalan, jika ada keikhlasannya akan tetapi belum benar, maka tidak akan diterima. Jika amalan itu benar akan tetapi tanpa disertai keikhlasan, maka juga tidak diterima, sampai amalan tersebut ikhlas dan benar. Yang ikhlas adalah yang hanya (diperuntukkan) bagi Allah dan yang benar adalah yang berada di atas sunnah Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam.
Berikut uraian kedua syarat ini:

Syarat Pertama: Pemurnian Keikhlasan Hanya Kepada Allah

Ini adalah konsekuensi dari syahadat pertama yaitu persaksian bahwa tidak ada sembahan yang berhak untuk disembah dan diibadahi kecuali hanya Allah -Subhanahu wa Ta
ala- semata serta meninggalkan dan berlepas diri dari berbagai macam bentuk kesyirikan dan penyembahan kepada selain Allah Taala.
Ada banyak dalil yang menopang syarat ini, di antaranya:
Allah Ta
ala berfirman:
Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Kitab (Al Quran) kepadamu dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih dari syirik. (QS. Az-Zumar : 2-3)
Allah Ta
ala berfirman:
Katakanlah, Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. (QS. Az-Zumar : 11)
Dan dalam firman-Nya:
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus. (QS. Al-Bayyinah : 5)
Adapun dari As-Sunnah, maka Rasulullah -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- telah menegaskan dalam sabda beliau:
Sesungguhnya setiap amalan hanyalah tergantung dengan niatnya masing-masing, dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan. Maka, barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak dia raih atau karena perempuan yang hendak dia nikahi, maka hijrahnya kepada sesuatu yang dia hijrah kepadanya. (HR. Al-Bukhari no. 54, 2392 dan Muslim no. 1907 dari sahabat Umar bin Al-Khaththab -radhiallahu anhu-)
Kemudian, keikhlasan yang diinginkan di sini adalah mencakup dua perkara:

1.    Lepas dari syirik ashgar /kecil) berupa riya`
(ingin dilihat), sumah (ingin didengar), keinginan mendapatkan balasan duniawi dari amalannya, dan yang semisalnya dari bentuk-bentuk ketidakikhlasan. Karena semua niat-niat di atas menyebabkan amalan yang sedang dikerjakan sia-sia, tidak ada artinya dan tidak akan diterima oleh Allah Taala.
Rasulullah -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- bersabda bahwa Allah Ta
ala berfirman dalam hadits Qudsy:
Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan apapun yang dia memperserikatkan Saya bersama selain Saya dalam amalan tersebut, maka akan saya tinggalkan dia dan siapa yang dia perserikatkan bersama saya. (HR. Muslim no. 2985 dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu-)
Kata
dia bisa kembali kepada pelakunya dan bisa kembali kepada amalannya, Wallahu Alam. Lihat Fathul Majid hal. 447.
Bahkan Allah Ta
ala telah menegaskan:
Barangsiapa yang menghendaki (dengan ibadahnya) kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Hud : 15-16)

2.    Lepas dari syirik akbar
(besar), yaitu menjadikan sebahagian dari atau seluruh ibadah yang sedang dia amalkan untuk selain Allah -Subhanahu wa Taala-. Perkara kedua ini jauh lebih berbahaya, karena tidak hanya membuat ibadah yang sedang diamalkan sia-sia dan tidak diterima oleh Allah, bahkan membuat seluruh pahala ibadah yang telah diamalkan akan terhapus seluruhnya tanpa terkecuali.
Allah Ta
ala telah mengancam Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- dan seluruh Nabi sebelum beliau dalam firman-Nya:
Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (Nabi-Nabi) yang sebelummu: Jika kamu berbuat kesyirikan, niscaya akan terhapuslah seluruh amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Az-Zumar : 65)

Dari syarat yang pertama ini, sebagian ulama ada yang menambahkan satu syarat lain diterimanya amalan, yaitu: Aqidah pelakunya haruslah aqidah yang benar, dalam artian dia tidak meyakini sebuah aqidah yang bisa mengkafirkan dirinya.
Contoh: Ada seseorang yang shalat dengan ikhlas dan sesuai dengan petunjuk Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, hanya saja dia meyakini bahwa Allah Ta
ala berada dimana-mana. Keyakinan dia ini adalah keyakinan yang kafir karena merendahkan Allah, yang karenanya shalatnya tidak akan diterima.
Contoh lain: Seseorang yang mengerjakan haji dengan ikhlas dan sesuai dengan petunjuk Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, hanya saja dia meyakini bahwa ada makhluk yang mengetahui perkara ghaib. Maka hajinya pun tidak akan diterima karena dia telah meyakini keyakinan yang rusak lagi merupakan kekafiran., wallahu a
lam bishshawab






Info cari di : http//: raxabaya.blogspot.com

 






Menjelang kelulusan UN 2012 , MTs Assasul Islamiyah Cibatu Cikembar Sukabumi berencana akan melaksanakan Sanlat di Pondok Pesantren Manba'ul Hikmah selama 3 hari. Ini dimaksudkan agar kegiatan keagamaan tidak terputus walaupun sudah melaksanakan Ujian Nasional.
Adapun materi yang akan diberikan kepada siswa antara lain :

Semuanya disajikan untuk lebih mempertebal keimanan siswa dan diharapkan dapat mengaplikasikannya setelah berada dirumah masing-masing

Sering aku termenung
Mencari makna tentang hidup
Tentang napas yang tak henti
Tentang tubuh yang masih berdiri
Sekilas pandang cakrawala
Rasakan kelembutan laut
Sadari kekuatan tanah tempat berpijak
Dan sang surya, yang tak pernah mengeluh
Sesaat mengalami cinta
Walau semu tapi terasa indah
Kadang menjerat dalam penderitaan
Mengotori jiwa dengan noda hitam
Atau juga terjatuh dalam keterpurukan
Pada kenyataan dunia yang tak terelakkan
Bahwa hidup tak selamanya mudah
Karena jurang kehidupan berada dimana-mana
Semakin lama aku berjuang
Aku semakin tidak mengerti
Akan apa yang sebenarnya disembunyikan hidup
Yang selalu menjadi teka-teki jiwa
Pertanyaan itu kian menggunung
Membangkitkan rasa penasaran
Yang tak jua terjawab
Memaksa hati tuk menjawab
Apa sebenarnya makna hidup
Materi Qur'an Hadits semester genap MA kls XI bisa dilihat disini atau download disini
Qudits XI Sem. Genap
Qudits XI Sem. Genap PDF untuk penjelasannya menyusul di postingan yang akan datang ........
Materi Qur'an Hadits Semester Genap MA XII bisa dilihat disini atau download disini

Qudits Sem II Kls XII
untuk penjelasannya menyusul dipostingan berikutnya ...